Cara Membedong Bayi yang Aman




Bedong bayi menjadi salah satu cara yang pastinya Moms lakukan dan disarankan oleh orang tua secara turun temurun. Meski terdengar sepele, bedong bayi bisa mengundang risiko medis seperti sindrom kemarian mendadak pada bayi.


Cukup banyak kasus yang telah ditemukan berkaitan dengan bayi yang meninggal karena bedong. Berikut fakta-faktanya:

  • 8 dari 10 bayi meninggal dan ditemukan menggunakan bedong instan

  • Usia bayi antara 3-5 bulan

  • 80% kasus berhubungan dengan bayi yang tidak dapat bernapas akibat posisi telungkup.

Oleh sebab itu, perlu Moms pahami juga cara membedong bayi yang aman. Berikut tips & trick dari Mutter untuk Moms praktikkan di rumah!


  1. Jangan mengikat bedong bayi terlalu kencang. Bila menggunakan bedong berupa kain, pastikan lipatan kain rapi, tidak longgar, juga tidak menutupi muka bayi. Penting untuk memastikan kaki bayi tetap dapat bergerak dengan leluasa. Tujuan yaitu meluruskan kaki bayi.

  2. Tidurkan bayi dalam posisi terlentang saat akan dibedong. Karena jika dibedong dalam posisi telungkup, bisa jadi akan membuat anak tidak nyaman bahkan meninggal karena disebabkan oleh gerakan bayi yang terbatas sehingga bayi tidak bebas mengangkat badannya atau berguling.

  3. Pastikan bayi tidak kepanasan saat dibedong. Jangan membungkus anak dengan kain berlapis-lapis, karena bayi bisa berisiko terkena hipertermia. Salah satu patokan yang dapat dipakai adalah mengamati dan memegang kulit bayi. Jika kulit bayi berkeringat atau terasa basah, artinya suhu terlalu panas.

  4. Tidak membedong bayi setelah usia 2 bulan. Panduan usia aman bedong bayi memang belum ada, tetapi hindari penggunaan bedong jika bayi sudah mulai dapat berguling (sekitar 3 bulan).

  5. Edukasi penjaga bayi (nenek atau babysitter) mengenai praktik bedong bayi yang aman.

Itu dia Moms beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membedong bayi. Pastikan untuk melakukannya dengan tepat dan benar ya.

3 views0 comments